Memulai Usaha Waralaba bagi Pemula

25

peluangusahaku.id – Bagi Anda yang akan menggunakan uang pesangon untuk usaha adalah pilihan tepat. Namun jika kehidupan Anda beberapa tahun ke depan tergantung dari uang tersebut, maka selektif dalam memilih usaha waralaba yang Anda akan beli. Ada beberapa hal yang bisa saya sarankan bagi Anda.

Pertama, pilih usaha waralaba yang sesuai dengan minat, bakat, hobi dan pengalaman pekerjaan yang Anda miliki sebelumnya. Jika Anda adalah seorang pekerja di bidang farmasi Anda bisa memilih membeli usaha waralaba di bidang farmasi seperti apotek. Begitu juga jika Anda memiliki hobi memasak, mengapa tidak Anda mencari usaha waralaba di bidang kuliner seperti restoran. Tujuan pemilihan usaha berdasarkan hobi ataupun jati diri Anda, akan menimbulkan kesenangan dalam menjalankan usaha. Jika sudah senang, tentu kendala atau permasalahan yang timbul akan dihadapi dengan suka cita. Apalagi beberapa tahun ke depan, “kehidupan” Anda tergantung pada uang pesangon yang sudah Anda belikan usaha waralaba.

Kedua,pilih usaha waralaba yang menjadi kebutuhan masyarakat, memiliki pasar yang besar, dan cari usaha waralaba yang belum pernah ada sebelumnya di lokasi usaha yang Anda miliki. Salah satu saran saya, pilih usaha waralaba di bidang kuliner baik itu restoran atau yang menyangkut kebutuhan perut. Mengingat Anda harus teliti sebelum membeli, maka pilih usaha waralaba restoran atau kuliner yang belum ada namun harus sesuai dengan selera masyarakat setempat.

Misalnya Anda akan buka restoran di Makasar, jika Anda akan menawarkan menu makanan Sunda atau Jawa bisa saja menjadi unik dan berpeluang. Hanya saja menu yang disajikan harus disesuaikan dengan lidah orang Makassar yang dominan menyukai rasa pedas. Jika Anda mengabaikan hal ini tentu usaha Anda tidak akan berhasil bahkan gulung tikar. Contohnya adalah teman saya yang membuka usaha makanan khas Jawa di Manado, yang kebetulan sedang ada momen event olahraga internasional. Sejak dibuka, omsetnya meledak bisa mencapai Rp 30 juta/hari, namun selepas acara tersebut, menu yang disajikan tidak disesuaikan dengan selera masyarakat setempat, maka setahun usaha pun harus tutup, meski sudah balik modal.

Usaha di bidang kuliner yang juga dapat Anda pilih adalah menjual nasi uduk misalnya. Meski terkesan sepele, namun nasi uduk bisa diterima oleh semua lidah masyarakat Indonesia di banyak daerah. Contoh saja, salah satu rekan saya yang membuka usaha nasi uduk Jakarta di Bali. Siapa sangka, meski berkonsep warung sederhana, namun pembelinya tak pernah sepi dari masyarakat setempat, turis domestik hingga turis mancanegara.

Ketiga, baca pasar. Salah satu kunci sukses usaha waralaba adalah ketepatan dalam membaca apa yang dibutuhkan pasar. Salah satu rekan saya yang cukup sukses menjalankan usaha waralaba adalah yang membeli usaha waralaba Piza Hut dan membukanya di Aceh saat tsunami Aceh terjadi. Benar saja, dalam waktu singkat pembukaan gerai, ramainya restoran tersebut tak pernah berhenti. Kuncinya adalah ketepatan membaca pasar dan memanfaatkan momentum yang terjadi. Pasalnya saat tsunami banyak turis asing yang masuk Aceh, maka dalam waktu singkat restoran tersebut diserbu konsumen yang sebagian besar adalah relawan asing.

Salah satu cara membaca pasar yang dapat dilakukan adalah membuka usaha waralaba yang lagi ramai/tren di kota besar seperti Jakarta. Hal ini sangat tepat bagi Anda yang akan memulai usaha waralaba di daerah. Misal saja waralaba Tony Jack milik Terwaralaba (Mitra) di Solo. Tiga bulan sejak pembukaan, respons konsumen sangat membludak, bahkan konsumen rela mengantre panjang dan buka 24 jam namun setelah itu restoran tersebut kembali sepi.

Mungkin tiga bulan awal pertama masyarakat daerah masih awam dengan menu makanan cepat saji yang ditawarkan, apalagi masih dalam masa promosi. Nah, hal ini juga yang harus diperhatikan bagi Anda yang akan membuka usaha di daerah. Sebagian besar konsumen daerah hanya “mencoba karena penasaran” setelah itu mereka tidak akan kembali membeli. Maka ada baiknya Anda harus membaca kebiasaan masyarakat daerah setempat, apa suka makan di luar atau makan di rumah. Jika kebiasaan makan di luar sangat minim, maka ramainya usaha tak akan bertahan lama.

Contoh lain yang juga bisa diperhatikan adalah kasus ramainya pembukaan tempat pencucian mobil/motor salju di daerah yang ramai 2-3 bulan pertama. Tapi setelah itu, masyarakat kembali mencuci motor/mobil di pinggir jalan yang manual atau mencuci di rumah. Maka Anda harus benar-benar membaca kebiasaan pasar. Hal kecil yang dapat dilakukan adalah membuat survei kecil-kecilan tentang kebiasaan dan gaya hidup masyarakat daerah setempat.

Keempat, dongkrak penjualan dengan promosi. Belajar dari beberapa pengalaman dalam menjalankan usaha, promosi menjadi hal yang sangat penting. Bagi usaha yang baru buka, mutlak berpromosi baik selebaran, voucher makan gratis, diskon hingga iklan di media cetak. Namun sayang saat mulai ramai, pelaku usaha biasanya “terlena” sehingga tidak berpromosi.

Padahal promosi ini harus dilakukan tanpa berhenti, jika pun akan dikurangi bisa saja, tapi jika penjualan mulai menurun, promosi harus kembali digencarkan. Coba belajar dari perusahaan besar, meski namanya sudah dikenal masyarakat luas, namun iklannya tak pernah berhenti. Apalagi jika terjadi penurunan penjualan, pasti promosi kembali digencarkan baik di media cetak, televisi hingga berbagai acara bazar dan promosi lainnya.

Kelima. Bagi Anda yang akan memulai usaha dari modal uang pesangon pensiun dini maka hal yang harus diperhatikan adalah pilih usaha waralaba yang modalnya maksimal 1/3 uang pesangon yang Anda miliki. Misal uang pesangon Anda Rp 100 juta, maka pilih usaha waralaba dengan total investasi (termasuk tempat, dll) Rp 30 juta. Jangan menghabiskan uang yang Anda miliki untuk usaha. Hal ini adalah langkah antisipasi jika usaha yang dijalankan tak semulus yang dijanjikan, maka Anda masih memiliki uang untuk memulai usaha lainnya dan “bertahan hidup”.

Tips. Nah, bagi Anda yang masih pemula maka pilih usaha waralaba yang memiliki kredibilitas. Indikatornya usaha telah berjalan 3-5 tahun. Memiliki cabang milik sendiri dan beberapa gerai milik Mitra. Usaha waralaba tersebut terbukti menguntungkan dibuktikan dengan audit keuangan atau bisa dilihat apakah Mitra merasa senang menjalankan usaha karena menguntungkan. Usaha waralaba memiliki struktur organisasi yang kuat, Pewaralaba (pemilik merek) bukan single player di mana direktur, marketing dan operasional ditangani oleh pemilik usaha.