Shoe Bible, Pionir Waralaba Laundry Sepatu

peluanguashaku.id – Memiliki pengalaman buruk mencuci sepatu ke jasa laundry pakaian menginspirasi Dian Maya Puspitasari membuka usaha jasa laundry khsuus sepatu yang diberi nama Shoe Bible pada Oktober 2014. “Dulu pernah coba cuci sepatu di laundry pakaian, bukannya bersih yang ada sepatu jadi rusak,” jelasnya.

Hal ini sangat wajar, maklum tiap sepatu menggunakan bahan yang berbeda-beda. Karena itu perlu perawatan yang berbeda juga. Begitu pula dalam hal mencucinya. Bukan hanya itu semakin sibuknya masyarakat perkotaan membuat banyak orang tak sempat lagi membersihkan bahkan mencuci sepatu kesayangannya. Walhasil laundry sepatu jadi jawabannya. “Banyak orang yang nggak punya waktu luang untuk membersihkan sepatu seperti saya. Agar tidak ada lagi yang bernasib seperti saya (sepatu rusak pasca di laundry) akhirnya saya terinspirasi untuk membuka jasa laundry sepatu,” ujarnya

Bersama temannya Yanda Hendriaman, Dian mulai membuka usaha jasa laundry sepatu di salah satu kios Pasar Santa, Jakarta Selatan. Pasar Santa dipilih Dian karena pasar tradisional tersebut mendadak ramai pasca bermunculan kedai kopi di pasar tersebut yang ramai dikunjungi anak muda Jakarta.

Untuk membangun usaha tersebut, Dian dan Yanda patungan modal hingga terkumpul Rp 50 juta yang digunakan untuk membeli peralatan usaha dan sewa tempat di Pasar Santa, Jakarta Selatan. “Selain faktor modal, alasan saya menggandeng Yanda karena kita sudah kenal lama dan juga memiliki hobi yang sama terhadap sepatu,” ungkapnya.

Belum familiernya usaha laundry sepatu di kalangan masyarakat membuat Dian harus gencar mempromosikan Shoe Bible Laundry. Seperti kebanyakan anak muda yang membuka usaha, Dian memilih untuk mempromosikan usahanya lewat media sosial. Tidak lupa Dian mendatangi komunitas pencinta sepatu yang tersebar di Jakarta. “Lewat komunitas ini saya berharap Shoe Bible Laundry lebih cepat dikenal, karena biasanya jika satu komunitas sudah merasakan hasil yang puas maka mereka tidak akan segan untuk menginformasikan ke komunitas lainnya,” ujarnya.

Hasilnya cukup efektif, pasalnya Shoe Bible mendapat respons yang positif dari pelanggan khususnya para pencinta sepatu. Agar usahanya lebih cepat berkembang Dian memutuskan untuk membuka kerjasama kemitraan, kebetulan ada beberapa pelanggan yang tertarik untuk membuka usaha sejenis. Sebagai persiapan Dian bergegas membuat SOP (Standard Operating Procedure), sayang Shoe Bible belum memiliki perizinan apapun. Sejak diwaralabakan pada April 2014, kini Shoe Bible telah memiliki 3 cabang dan 3 Terwaralaba yang semuanya terletak di Jakarta.